Perpustakaan Balai Konservasi Borobudur

  • Home
  • Information
  • News
  • Help
  • Librarian
  • Member Area
  • Select Language :
    Arabic Bengali Brazilian Portuguese English Espanol German Indonesian Japanese Malay Persian Russian Thai Turkish Urdu

Search by :

ALL Author Subject ISBN/ISSN Advanced Search

Last search:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Studi Arkeologi Temuan-Temuan Yoni Di Sekitar Candi Borobudur

LAPORAN STUDI

Studi Arkeologi Temuan-Temuan Yoni Di Sekitar Candi Borobudur

SUHARTONO, Yudi - Personal Name; Suparjiono - Personal Name; Dahroni - Personal Name;

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian, maka diperoleh suatu kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari hasil Observasi lapangan di situs-situs sekitar candi Borobudur (Kabupaten Magelang) ditemukan 27 yoni yang tersebar di 9 kecamatan. Sedangkan yoni-yoni yang sekarang disimpan pada Kantor Balai Studi dan Konservasi Borobudur berjumlah 18 buah. Yoni-yoni ini merupakan hasil pengumpulan lapangan di kabupaten Magelang pada tahun 1997/1998. Selain itu dari hasil studi banding di Kompleks percandian Dieng (Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah), Candi Prambanan, Candi Ijo, candi Kedulan, Candi Sambisari, Candi Gebang (Kabupaten Sleman Yogyakarta) dan koleksi Museum Kompleks Candi Sewu (Kabupaten Klaten, Jawa Tengah) di peroleh 26 buah yoni.
2. Yoni-yoni yang terdapat di sekitar Candi Borobudur (kabupaten Magelang) baik hasil observasi lapangan maupun koleksi kantor Balai Studi dan Konservasi Borobudur setelah dilakukan klasifikasi diperoleh 5 buah tipe yoni dengan beberapa Sub Tipe, sehingga secara keseluruhan dihasilkan 6 tipe dan 10 sub tipe yoni. Klasifikasi yang dilakukan terutama didasarkan pada keberadaan hiasan di bawah cerat yoni.
3. Dari hasil klasifikasi dapat diketahui adanya perbedaan dan persamaan bentuk-bentuk yoni. Persamaan dan perbedaan yoni sebagai sebuah hasil karya seni dipengaruhi oleh perubahan agama, politik, sosial dan budaya yang melatarbelakangi. Faktor-faktor yang menyebabkan adanya persamaan bentuk yoni diantaranya adalah faktor lingkungan pendukung kebudayaan yang sama dan faktor wilayah geografi yang sama. Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan adanya perbedaan bentuk yoni diantaranya faktor penguasa, faktor kedekatan dengan pusat kekuasaan kerajaan dan faktor seniman pembuat.
4. Hiasan yang terdapat di bawah yoni sebagian besar memiliki makna religius dan simbolis. Keberadaan pahatan hiasan garuda, kura-kura dan naga dibawah cerat yoni baik secara bersama-sama (garuda, kura-kura, naga dan kura-kura, naga) maupun terpisah-pisah (naga dan garuda) tidak terlepas dari fungsi yoni dan lingga dalam suatu upacara ritual keagamaan. Dalam suatu upacara ritual keagamaan, lingga diatas yoni disiram atau dimandikan dengan air, air ini kemudian keluar atau dibuang melalui cerat yoni. Dalam kaitan dengan ketiga pahatan binatang tersebut, berdasarkan cerita Samudramantana dan garudae dapat diketahui bahwa ketiga binatang tersebut memiliki peranan dalam perebutan air amerta, sehingga secara simbolis air yang keluar melalui cerat yoni dalam upacara ritual dianggap sebagai air suci dan diumpamakan sebagai air amerta. Air amerta dalam agama Hindu dianggap sebagai lambang pensucian, kekekalan dan kehidupan. Sedangkan keberadaan hias Kala dan Singa pada yoni diartikan sebagai penjaga yoni dan pasangannya lingga yang merupakan penjelmaan dari Dewa Siwa. Seperti telah disebut diatas, yoni dianggap sebagai media pemujaan yang mengalirkan air. Air yang disiramkan ke lingga kemudian jatuh ke yoni dan mengalir keluar melalui cerat yoni dan dianggap sebagai air suci. Kesucian air tersebut lebih terjaga dengan adanya kala dan singa pada yoni. Sedangkan keberadaan hiasan setengah lengkung dan sulur pada yoni tidak memiliki arti simbolis dan religius tetapi lebih cenderung hanya sebagai hiasan untuk keindahan saja.


Availability
LS0464LS 930.1 SUH sPerpustakaan Balai Konservasi Borobudur (B)Available
LS0465LS 930.1 SUH sPerpustakaan Balai Konservasi Borobudur (B)Available
Detail Information
Series Title
-
Call Number
LS 930.1 SUH s
Publisher
Magelang : Balai Studi dan Konservasi Borobudur., 2003
Collation
iii, 62 hlm; 29 cm
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Classification
930.1
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
-
Subject(s)
Arkeologi
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility
-
Other version/related

No other version available

File Attachment
No Data
Comments

You must be logged in to post a comment

Perpustakaan Balai Konservasi Borobudur
  • Information
  • Services
  • Librarian Login
  • Member Area

About Us

Pada awalnya Balai Konservasi Borobudur bernama Balai Studi dan Konservasi Borobudur yang berdiri tahun 1991. Pada tahun 2006 berubah nama menjadi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.40/OT.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006.

Balai Studi dan Konservasi Borobudur dan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur merupakan lembaga khusus yang menangani Candi Borobudur yang telah selesai dipugar memerlukan perawatan, pengamatan dan penelitian berkelanjutan.

Pada tahun 2012, lembaga ini kembali berubah nama menjadi Balai Konservasi Borobudur dan berfungsi sebagai pusat konservasi dan pemugaran cagar budaya seluruh Indonesia di samping menangani Warisan Dunia (World Heritage) Candi Borobudur.

Search

start it by typing one or more keywords for title, author or subject

Keep SLiMS Alive Want to Contribute?

© 2026 — Senayan Developer Community

Powered by SLiMS. . .
Select the topic you are interested in
  • Computer Science, Information & General Works
  • Philosophy & Psychology
  • Religion
  • Social Sciences
  • Language
  • Pure Science
  • Applied Sciences
  • Art & Recreation
  • Literature
  • History & Geography
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Advanced Search